Abstrak Tahun 2010

Efektivitas Jenis Pelarut Terhadap Kadar Senyawa Antosianin dari Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa)

Bagus Rahmawan, Elok Kamilah Hayati, Rachmawati Ningsih

ABSTRAK

Penelitian tentang efektivitas jenis pelarut terhadap kadar anstosianin kelopak bunga rosella dilakukan untuk mengetahui kemampuan suatu pelarut dalam mengekstrak pigmen antosianin yang terdapat pada kelopak bunga rosella. Disamping itu mengetahui pelarut yang tepat dalam mengambil senyawa antosianin dengan jumlah yang besar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pH defferensial menggunakan spektrofotometer UV-Visibel, sedangkan untuk mengetahui intensitas warna dari masing-masing pelarut menggunakan color reader.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut terbaik yang dapat mengekstrak pigmen senyawa antosianin paling tinggi ialah kombinasi pelarut etanol 95 % : aquades : asam sitrat 0,75 %, dengan kecerahan (L*) sebesar 27,5, warna merah (a*) 28,0 dan warna kuning (b*) sebesar 11,4. Absorbansi yang diperoleh pada pH 1,0 sebesar 0,4127 pada panjang gelombang maksimum 520,5 nm dengan kadar antosianin 30,36 mg/L. Pelarut lain seperti aseton 60 % : aquades : asam sitrat 0,75 % mampu mengekstrak kadar antosianin sebesar 9,77 mg/L, sedangkan untuk pelarut aquades : asam sitrat 0,75 % menghasilkan kadar antosianin 9,49 mg/L

Kata kunci : Rosella (Hibiscus sabdariffa), antosianin, pewarna alami

************************

Uji Efektivitas dan Identifikasi Senyawa Ekstrak Biji Sirsak (Annona muricata Linn.) yang Bersifat Bioaktif Insektisida Nabati terhadap Hama Thrips

Anggrainy Putri Mulyawati, Elok Kamilah Hayati, Tukimin

ABSTRAK

Tanaman sirsak (Annona muricata L.) banyak tumbuh di Indonesia dan dapat digunakan sebagai insektisida nabati. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan biji sirsak yang diekstrak dengan metanol, air dengan ekstraksi maserasi dan ekstraksi cair-cair secara bertahap dengan etil asetat terhadap hama thrips dan untuk mengetahui jenis golongan senyawa dalam ekstrak etil asetat biji sirsak.
Hama thrips yang mempunyai sabuk merah (red bended) yang diujikan dengan konsentrasi 5 mg ekstrak/L air, 10 mg ekstrak/L air, 20 mg ekstrak/L air, 40 mg ekstrak/L air, dan 80 mg ekstrak/L air. Kontrol positif dan kontrol negatif masing-masing menggunakan polisulfida dan campuran air dan detergen. Pengamatan dilakukan dalam waktu 120 jam setelah penyemprotan, dengan rancangan percobaannya rancangan acak lengkap (RAL). Identifikasi jenis golongan senyawa aktif insektisida dari ekstrak kasar biji sirsak dengan uji fitokimia reagen, kromatografi lapis tipis, spektrofotometer FTIR dan kromatografi gas-spektrometer massa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap konsentrasi ekstrak biji sirsak yang diberikan memiliki tingkat toksisitas terhadap hama thrips, yang ditunjukkan dengan nilai LC50 < 1000 mg ekstrak/L air, yaitu 16,9272 mg ekstrak/L air pada pengamatan 120 jam setelah penyemprotan. Konsentrasi 40 mg ekstrak/L air pada 72 jam telah membunuh 39,2 %, tidak beda nyata dengan konsentrasi 80 mg ekstrak/L air yang mempunyai mortalitas 44,4 %. Skrining fitokimia metabolit sekunder yang dilakukan tidak terdapat hasil yang positif dan hasil pemisahan senyawa asetogenin dengan kromatografi lapis tipis (KLT) tidak menghasilkan noda. Kandungan senyawa dalam ekstrak etil asetat biji sirsak berdasarkan hasil identifikasi dengan spektrofotometer FTIR dan Kromatografi gas-Spektrometer massa adalah golongan asam karboksilat jenuh, yaitu asam linoleat, asam oktadekanoat, asam palmitat dan 2-furankarboksaldehid.

Kata Kunci : Annona muricata, hama thrips, KLT, uji fitokimia, asam linoleat, asam oktadekanoat, asam palmitat dan 2-furankarboksaldehid, FTIR, GC-MS

************************

Aktivitas Antibakteri Komponen Tanin Ekstrak Daun Blimbing Wuluh (Averrhoa Billimbi L) Sebagai Pengawet Alami

Elok Kamilah Hayati, Akyunul Jannah, A. Ghanaim Fasya

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aktivitas antibakteri senyawa tanin pada ekstrak daun belimbing wuluh dan mengetahui nilai konsentrasi minimum penghambatan sebagai senyawa antibakteri.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, ekstraksi, identifikasi dengan menggunakan uji fitokimia, KLT dan identifikasi dengan menggunakan spektrofotometer inframerah. Uji efektifitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri S. aureus dan E. coli menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi ekstrak 50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, dan 400 mg/mL.
Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam ekstrak tannin di duga mengandung tannin hal ini di dukung dari analisis menggunakan uji reagen dengan FeCl3, gelatin dan formalin : HCl yang menunjukkan hasil positif, serta di dukung dengan analisis menggunakan KLT dengan eluen campuran n-butanol : asam asetat : air (BAA) (4:1:5) yang dideteksi pada lampu UV 254 dan 366 nm yang menghasilkan 3 spot dengan spot dugaan tanin mempunyai nilai Rf 0,61. Hasil uji aktifitas antibakteri dengan pelarut terbaik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menunjukkan bahwa pada konsentrasi 50 mg/ml sampai 400 mg/ml senyawa tanin memiliki aktivitas antibakteri untuk kedua bakteri uji, berdasarkan uji BNT 1 % untuk bakteri S.aureus diketahui konsentrasi ekstrak 150, 250, 300, 350, dan 400 mg/mL berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) di antara konsentrasi lain sedangkan untuk E. coli diketahui konsentrasi ekstrak 100, 150, 250, 300, 350, dan 400 mg/mL berpengaruh sangat nyata (p < 0,01).

Kata kunci: averrhoa bilimbi L., tannin, antibakteri, pengawet alami

************************

Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin dari Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi. L) KajianVariasi Pelarut

Masithah Khairul Ummah, Elok Kamilah Hayati, Akyunul Jannah

ABSTRAK

Penggunaan antibakteri sintetik atau pengawet sintetik pada makanan seperti penambahan formalin jika dikonsumsi secara terus menerus akan menyebabkan penyakit, adanya fenomena di atas mendorong manusia untuk mencari solusi yang terbaik bagi kesehatan. Solusi yang dilakukan adalah mencari alternatif pengganti antibakteri sintetis dengan menggunakan antibakteri alami yang dapat diperoleh dari tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pelarut terbaik dan aktivitasa antinbakteri dari pelarut terbaik terhadap bakteri S. aureus dan E. coli.
Penelitian ini meliputi ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi menggunakan 4 jenis pelarut yang berbeda yaitu air hangat, metanol, etanol, dan Aseton:air (7:3). Penentuan pelarut terbaik hasil ekstraksi adalah dengan menggunakan metode Lowenthal-Procter Uji efektifitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri S. aureus dan E. coli menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi ekstrak 50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, dan 400 mg/mL.
Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa berdasrkan uji fitokimia daun belimbing wuluh mengandung senyawa tanin. Pelarut terbaik yang dapat mengekstrak tanin dengan kadar tertinggi adalah Aseton:air (7:3). Hasil perhitungan zona hambat ekstrak tanin dari pelarut terbaik terhadap bakteri S. aureus pada konsentrasi 50 mg/ml:6,1 mm, 100 mg/ml:6,3mm, 150 mg/ml:7,1mm, 200 mg/ml:10,67 mm, 250 mg/ml:11,6 mm, 300 mg/ml:13,5 mm, 350 mg/ml:14,16 mm, dan 400 mg/ml:15,1 mm. Nilai zona hambat untuk E. coli pada konsentrasi 50 mg/ml:7,4 mm, 100 mg/ml:9,7 mm, 150 mg/ml:11,2 mm, 200 mg/ml:12,6 mm, 250 mg/ml:13 mm, 300 mg/ml:13,9 mm, 350 mg/ml:14,2, dan 400 mg/ml:15,27 mm. Konsentrasi terbaik untuk kedua bakteri adalah 400 mg/ml, dan berdasarkan hasil zona hambat yang terbentuk bahwa senyawa tanin bersifat resisiten terhadap kedua bakteri uji.

Kata Kunci : daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi. L), tanin, antibakteri

**************************

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Daun Sirih Merah (Piper betle L.var Rubrum)

Dewi Noer Ata, Elok Kamilah Hayati, A.Ghanaim Fasya

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang isolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dari daun sirih merah (Piper betle L.var Rubrum) yang tergolong dalam keluarga Piperaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eluen terbaik dan jenis senyawa flavonoid yang terdapat dalam daun sirih merah.
Penelitian ini meliputi ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Kemudian dilakukan pemisahan ekstrak flavonoid dengan metode KLT analitik untuk mencari eluen terbaik. Variasi eluen meliputi eluen lapisan atas dari campuran n-butanol – asam asetat glasial – air (BAA) dengan komposisi (4:1:5), (6:1:2), dan metanol – kloroform dengan komposisi (7:3), (6:4), (5:5), (4:6), (3:7), (2:8), (1:9), (1:19) dan (1:39. Eluen terbaik digunakan sebagai eluen KLT preparatif. Hasil dari KLT preparatif diidentifikasi dengan spektrofotometer UV-Vis dan spektrofotometer FTIR.
Hasil KLT analitik menunjukkan bahwa eluen terbaik untuk KLT preparatif adalah metanol:kloroform (1:39). Identifikasi UV-Vis menunjukkan bahwa jenis flavonoid yang terdapat pada daun sirih merah adalah senyawa flavonol, flavanon, isoflavon dan auron. Identifikasi FTIR menunjukkan gugus fungsi yang terdapat pada senyawa flavonoid pada daun sirih merah adalah gugus –OH, -C=O karbonil, -C=C aromatik, -C-O alkohol, -C-H alifatik streching, dan -C-H aromatik.

Kata kunci : daun sirih merah (Piper betle L.var Rubrum), flavonoid, isolasi, kromatografi lapis tipis, spektrofotometer UV-Vis, spektrofotometer FTIR

6 Comments

  1. Duniaku Farmasiku said,

    June 15, 2010 at 11:25 am

    Ada gag yahh penelitian tentang uji aktivitas antioksidan belimbimg wuluh?
    trus bagaimana nentuin pelarut untuk ekstraksix?

    • elokkamilahuinmalang said,

      June 15, 2010 at 11:31 am

      coba anda googling di internet, sy rasa sudah ada, kl mahasiswa kami hanya meneliti seputar antibakteri baik pada batang, daun dan buah.Antioksdan pada apa dari tanaman belimbing wuluh?? (buah, daun atau batang). Soal pelarut, biasanya yang bersifat sebagai antioksdan adalah senyawa flavonoid dan di buah belimbing wuluh ada falavonoid tersebut (hasil penelitian kami), selain itu juga rasa kecut adanya asam askorbat yang memungkinkan bisa bersifat sebagi antioksidan, sehingga kita menggunakan pelarut untuk mengekstrak senyawa2 tersebut. semoga membantu.

  2. Duniaku Farmasiku said,

    June 15, 2010 at 1:37 pm

    pengen buat sediaan antioksidan dari buahnya…..
    Trimakasih untuk penjelasanya^^

    • elokkamilahuinmalang said,

      June 18, 2010 at 9:56 am

      ok, semoga sukses, selalu mengembangkan apa yang ada untuk kemajuan iptek

  3. kebby said,

    July 24, 2010 at 2:57 pm

    pengen buad sediaan pake daum belimbing wuluhh,,,,sebagai antibakteri,,, ada saran gag kak????

    • elok kamilah hayati said,

      July 24, 2010 at 3:05 pm

      Kami di UIN Malang, sudah melakukkan pengujian daun belimbing wuluh sebagai antibakteri untuk senyawa tanin scr invitro dan sedang proses penelitian secara in vivo, kalau adik mau penelitian daun belimbing wuluh tujuan nya apa? apa uji aktivitas atau proses isolasinya…


%d bloggers like this: